Yogi, Mualaf Umur 8 Tahun Yang Bikin Haru

Inspirasi

Keyakinan dan ketetapan hati bisa muncul tak diduga. Tanpa berbatas waktu, juga usia. Seperti keinginan bocah kecil delapan tahun di Ketapang, Kalimantan Barat, yang memutuskan jadi mualaf di usia belia.

Nama anak itu Yogi Setiadi. Biasa dipanggil Yogi. Yogi berbeda dari anak kecil seumurannya, yang umumnya hanya ikut kata orang tua.

Sejak kecil, Yogi sudah menunjukkan kecintaannya pada agama Islam. Sebagaimana dikisahkan sang mama, Eriyanti, Yogi kecil yang baru pandai bicara begitu menyukai segala hal yang bernuansa Islam. Ketika mendengar adzan, ia akan menyebut ‘ada alaaba’ yang maksudnya Allahu Akbar.

Begitu pula, Yogi menangis ketika dibawa keĀ  tempat ibadah yang sesuai keyakinan orang tuanya, dan justru merengek minta pulang. Ia juga menolak makan daging babi dan anjing tiap dibawa ke kampung orang tuanya. Berdekatan pun tidak mau.

Beda halnya ketika ada acara syukuran warga muslim dekat rumahnya. Yogi justru bersemangat sambil bilang, “Ayo ma kita pergi ke tempat orang amin-amin.”

Tingkah Yogi kecil memang menakjubkan, terlebih ketika ia mulai menginjak bangku sekolah dasar.

Setahun lalu, tahun 2016, usia Yogi baru tujuh tahun. Mengetahui ada pelajaran agama Islam di sekolahnya, ia tertarik mengikuti. Yogi berkeras memperdalam ajaran Islam, bahkan ikut belajar shalat dan mengaji.

Sebab beda keyakinan, sang mama terpaksa melarang. Eriyanti berupaya menjelaskan ketidaksamaan agama, dan tak memperbolehkan. Namun Yogi tetap dengan pendiriannya. Dia bilang mau ikut Islam saja.

Di rumah, Yogi belajar shalat sendiri. Handuk pun jadi sajadah, teman-teman juga ikut diundang shalat berjamaah. Yogi yang jadi imam.

Tiap sore menjelang maghrib dan Jumat siang, Yogi kerap menghilang dari rumah. Sebagai ibu sang mama pasti khawatir, hingga suatu hari ia merasa melihat putranya pakai baji koko lengkap dengan kopiah. Sepulangnya Yogi, sang mama bertanya dia dari mana. Dari masjid, jawabnya santai.

Lama-lama sang mama juga tahu menghilangnya Yogi karena pergi ke surau dan pesantren dekat rumah. Bahkan tetangga banyak yang meyakinkan sang mama, kalau mendengar ada yang salawatan di masjid, berarti itu Yogi.

Dengan kesadaran dan keinginan sendiri, Yogi akhirnya masuk Islam. Tanggal 5 Oktober 2017, Yogi berangkat ke Kantor Urusan Agama (KUA) di temani sang mama. Sebelumnya ia telah disunat dengan alasan agar bisa jadi imam.

Sang mama hanya berpesan, agar Yogi dibimbing menjalani agama barunya dan tidak ditelantarkan. Sang mama pun ikhlas putranya jadi mualaf karena Yogi begitu yakin terhadap Islam. Ingin masuk surga, serta menaikkan haji bapak dan mamak katanya.

Leave a Reply